DUNIA

7 Negara Lockdown Jilid II COVID-19, Perlu Antisipasi Global?

Ilustrasi, virus corona

HINGGA Selasa (7/7/2020) pekan ini, kasus positif Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia mencapai 11.590.195, berdasarkan Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE, dengan jumlah kematian secara global tercatat sebanyak 537.429 jiwa. 

Meski begitu, sejumlah negara di dunia ada yang mulai melonggarkan pembatasan karena jumlah kasus COVID-19 di wilayahnya melandai. Namun, ada juga negara yang nekat membuka penguncian wilayah atau lockdown karena kondisi ekonomi yang melemah, walau kasusnya masih melonjak.

Akibatnya, gelombang kedua Virus Corona menghantam. Lockdown jilid kedua pun terpaksa dilakukan.

Tercatat, ada tujuh negara yang mulai memberlakukan lockdown jilid II. Meski, tak secara nasional melainkan hanya di sejumlah bagian negaranya. Antara lain: Spanyol, Portugal, Kazakhstan, Inggris, China, Jerman, dan Australia.

Kondisi ini sudah diperkirakan bakal terjadi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Dr. Maria Van Kerkhove selaku kepala unit penyakit dan zoonosis WHO mengatakan, jika langkah penguncian kembali dirasa perlu untuk dilakukan, maka para pemerintah negara harus siap untuk memberlakukannya lagi. 

“Beberapa negara yang telah berhasil menekan transmisi dan buka kembali, sekarang mungkin mengalami kemunduran,” katanya dikutip dari laman CNBC International.  

“Pemerintah negara itu mungkin harus melakukan intervensi lagi, mungkin harus melakukan apa yang kita sebut lockdown,” tambahnya.

Di sejumlah negara, pembukaan kembali lockdown membuat kasus terlihat menjadi sangat luar biasa. Maria pun meminta para pemimpin negara segera mengambil alih, untuk menuntaskan masalah ini.

“Belum terlambat untuk membalikkan keadaan. Kami melihat negara-negara yang berada dalam situasi luar biasa bisa membalikkan keadaan. Belum terlambat menggunakan pendekatan komprehensif ini.” 

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pun memperingatkan dunia bahwa pandemi Virus Corona COVID-19 ini belum mendekati berakhir.

“Kita semua ingin ini berakhir. Kita semua ingin melanjutkan kehidupan,’ dan melanjutkan, Tetapi kenyataan yang sulit adalah ini bahkan belum berakhir. Walaupun banyak negara telah membuat beberapa kemajuan, secara global pandemi ini sebenarnya sedang meningkat.”

Ia mengungkap, 60 persen kasus Virus Corona dunia sejauh ini muncul di Juni. Karena itu, Tedros meminta semua pihak memakai langkah pencegahan holistik sebagai upaya antisipasi global.

“Tidak hanya testing. Tidak hanya jaga jarak fisik. Tidak hanya melacak kontak. Tidak hanya masker. Laksanakan semua,” tegas dia.

Tedros juga berpesan mengenai pentingnya mengedukasi masyarakat, serta melatih dan menyediakan perlengkapan bagi petugas kesehatan.

Secara khusus di Indonesia, WHO menilai risiko penularan secara keseluruhan masih tinggi lantaran transmisi dan pergerakan masyarakat yang terus berlangsung antardaerah. 

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan secara bervariasi di setiap provinsi. Namun demikian, Indonesia masih melaporkan lebih dari 1.000 kasus baru dalam beberapa hari terakhir.

Melalui laporan resmi WHO tentang kondisi pandemi Virus Corona COVID-19 di Indonesia, WHO menyatakan dukungannya bagi Kementerian Kesehatan untuk memperluas pelacakan kontak di seluruh Indonesia.

“Sebagai bagian dari upaya ini, WHO akan memberikan bantuan teknis untuk mengembangkan buku pegangan bagi staf lapangan yang akan dikerahkan untuk pelacakan kontak di tingkat provinsi,” ungkap laporan resmi WHO.

Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono mengungkapkan, untuk melihat situasi pandemi COVID-19 di Indonesia, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Di antaranya melihat daerah kasus lonjakan serta jumlah tes COVID-19 yang sudah dilakukan. 

“Kita harus melihat lonjakan kasus COVID-19 di mana, daerah mana saja. Lalu perlu juga diketahui berapa tes (untuk pemeriksaan spesimen) yang dilakukan,” tutur Pandu seperti dikutip dari Liputan6.

“Yang namanya lonjakan (kasus COVID-19) tergantung testing atau faktor lainnya seperti apa. Kalau (penambahan kasus COVID-19) dari testing aktif itu bagus,” imbuhnya.

Pandu menegaskan, dalam melihat situasi COVID-19 tidak hanya dari lonjakan kasus COVID-19, juga angka positivity rate. “Saya melihat bukan hanya soal lonjakan kasus saja, tapi positivity rate-nya. Artinya, jumlah kasus dibagi jumlah tes. Jadi, kalau positivity rate-nya masih 20 persen ya tinggi. Di bawah itu ya 3 persen (angka positivity rate aman)” tegasnya.

“Untuk positivity rate-nya data terakhir saya belum tahu seberapa banyak. Karena seringkali tidak dilaporkan. Kita bingung kalau ada penambahan positif COVID-19, apakah memang pandemi masih tinggi, penularan tinggi.”

Jika penambahan kasus COVID-19 yang diketahui dari hasil tes, Pandu menyebut hal itu bagus. Itu berarti bisa diidentifikasi.

Data Gugus Tugas Nasional pada 2 Juli 2020 melaporkan, sejak pertengahan Juni 2020, jumlah kasus baru terkonfirmasi positif Corona di Indonesia berada di kisaran 1.000 kasus per harinya. Namun, hal tersebut tidak serta merta menunjukkan angka positivity rate-nya tinggi.

Epidemiolog Gugus Tugas Nasional Dewi Nur Aisyah menerangkan, positivity rate tidak hanya dilihat dari angka saja, melainkan jumlah orang yang diperiksa. Secara nasional, positivity rate Indonesia mencapai 12 persen.

Angka ini masih di atas standar positivity rate yang ditetapkan WHO, yaitu sebesar 5 persen. Jika dibandingkan Mei 2020 lalu, positivity rate saat ini lebih rendah.

“Di pertengahan Mei ada 3.448 orang positif dalam waktu satu minggu. Orang yang diperiksa ada 26.000. Jadi dari 26,000 orang ada 3.000 yang positif. Sehingga, angka positivity rate-nya adalah 13 persen,” jelas Dewi.

Ia menambahkan, data pada Juni 2020 dengan rata-rata 8.000 kasus baru dalam satu minggu dan orang yang diperiksa mencapai 55.000, sehingga positivity rate-nya 12 persen. 

Jika angka nasional 12 persen, maka setiap kabupaten-kota memiliki cerita yang berbeda bila ditelaah dari jumlah orang positif dibandingkan dengan jumlah orang yang diperiksa.

“Jumlah kasus terbanyak, misalnya, dari Surabaya, tapi begitu dilihat perbandingan 100.000 penduduk, ceritanya jadi berbeda. Walaupun Surabaya masuk lima besar, tapi kalau dari data provinsi, tidak masuk kedalam lima besar (kasus COVID-19 tinggi),” Dewi memungkasi.

(*)

Sumber : Liputan6.com

Komentar

0 Komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Baru

To Top