TANJUNGPINANG

Saat Anak-Anak Ingin Kembali Bersekolah

Ilustrasi.(Foto Istimewa)

PERINGATAN Hari anak nasional tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun ini puncak peringatan Hari anak Nasional 2020 diselenggrakan secara virtual.

Harapan terbesar anak ingin kembali ke sekolah

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Tanjungpinang Raja Khairani di sela peringatan puncak HAN secara virtual bersama Forum Anak Kota Tanjungpinang baru-baru ini mengharapkan agar anak-anak selalu semangat meskipun harus belajar di rumah pada masa pandemi covid-19.

Ia juga mengingatkan untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan, rajin mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

“Jangan merasa kebal dari covid, namun tetap meningkatkan kewaspadaan agar pandemi ini cepat berakhir”, ujar Khairani.

Sementara itu Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3APM Kota Tanjungpinang Elvi Arianti menambahkan, bahwa banyak orang tua yang mengeluhkan tidak bisa mengajarkan anak di rumah dengan baik sebagaimana guru di sekolah yang bisa memberikan pemahaman kepada muridnya.

Di samping itu juga bagi orang tua yang bekerja tidak bisa mendampingi anaknya belajar, ditambah lagi keluarga yang terdampak covid -19 harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memebeli paket internet, dan ada juga daerah signal kurang baik. Di sisi lain, mereka juga khawatir akan cepatnya penularan covid.

Sedangkan keinginan terbesar anak-anak saat ini adalah kembali ke sekolah, karena belajar tatap muka akan lebih mudah anak-anak menyerap ilmu yang disampaikan oleh guru daripada secara virtual.

Lebih lanjut dipaparkan Elvi,  terlalu lamanya anak berada di rumah sejak bulan Maret hingga Juli dan belum ada ketetapan pasti kapan akan belajar tatap muka kembali ke sekolah,  maka  pola fikir anak juga berubah.

Tingkah lakunya juga berubah dan ketergantungan akan gadget semakin tinggi. Bukan hanya HP untuk belajar, tapi lebih cendrung untuk main game hingga larut malam.

Hal tersebut dapat membahayakan kepada diri anak itu sendiri karena radiasi, anak juga kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Anak yang biasanya bangun pagi berangkat ke sekolah, sore kembali ke rumah dengan berbagai aktivitas, namun selama masa pandemi justru sebaliknya.

Untuk itu Elvi berharap agar anak dapat kembali ke dunianya, dunia pendidikan yang sesungguhnya. Ada sekolah tempat mereka menimba ilmu pengetahuan dan bermain. Terutama bagi siswa-siswi yang duduk di bangku SMA dan SMP,  yang sudah faham bagaimana menerapkan protokol kesehatan sebagaimana aturan yang sudah ditetapkan agar  pendidikan anak tidak ketinggalan karena covid,  sesuai dengan tema Hari anak nasional tahun ini “anak terlindungi, Indonesia Maju”.

“Lain halnya bila guru dan murid memang sudah benar-benar siap dengan sistem pendidikan daring yang sudah terpola dengan sempurna, juga tanpa membebankan orangtua murid akan paket internet, mungkin hal tersebut tidak menjadi problema”, tambahnya.

Forum anak Kota Tanjungpinang, Haleza, Ajeng, fikri, aidil, dan beberapa orang lainnya mewakili suara hati anak Kota Tanjungpinang menginginkan  untuk belajar tatap muka langsung disekolah seperti biasa dengan tetap menerapkan  protokol kesehatan.

Mereka juga mengatakan, mungkin dari pihak sekolah bisa mengarahkan para siswa untuk membawa handsanitizer, memakai masker, bagi yang kurang sehat bisa menyusul menyelesaikan tugas di rumah saja yang sudah diberikan guru.

Di samping itu, setiap murid membawa bekal dari rumah untuk menghindari kerumunan di kantin.

Membawa perlengkapan sholat sendiri.

Ajeng mengatakan, banyak sekali keluhan yang dialami selama pembelajaran daring ini seperti:

Kesulitan memahami pelajaran yang dipaparkan melalui media online, kesulitan dalam mengirim tugas karena gangguan jaringan atau habis kuota dan tidak bisa  membeli karena sedang tidak  ada uang ataupun yang lainnya.

Ditambahkannya,  rata-rata setiap sekolah berbeda-beda  dalam menerapkan sistem pelajaran secara daring.

Ada sekolah yang setiap gurunya menggunakan aplikasi yang berbeda-beda.

  “Jujur saja, banyak sekali dari  kami merasa kesulitan di sini, yaitu penyimpanan hp yang penuh dan juga sulitnya memahami dalam penggunaan masing-masing dari aplikasi tersebut,” katanya.

“Hal ini menyebabkan beberapa murid yang merasakan problem ini tertinggal pelajaran, tidak terkumpulnya tugas karena deadline yang ditentukan oleh masing-masing  guru”, lanjutnya.

“Kami berharap agar kami  bisa kembali ke sekolah belajar tatap muka dengan guru”, ujarnya.

(*)

Sumber : bentan.id

Komentar

0 Komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Baru

To Top