Connect with us

Permainan Asah Otak yang Bisa Menurunkan Demensia

KEHIDUPAN

Permainan Asah Otak yang Bisa Menurunkan Demensia

Foto ilustrasi : © Brainking Plus

Permainan Asah Otak yang Bisa Menurunkan Demensia

PENYAKIT demensia hingga kini belum ada obatnya. Tapi, sebuah studi baru menunjukkan terobosan dalam pencegahan demensia setelah menemukan bahwa permainan asah otak tertentu dapat menurunkan risiko kondisi ini.

Selama bertahun-tahun para ahli telah berupaya menemukan bukti bahwa permainan asah otak dapat membantu melindungi otak dari ausnya ingatan dan demensia. Mereka menelaah manfaat sudoku, hingga berbagai program permainan komputer yang rumit, namun hasilnya selalu buntu.

Malah, sekelompok ilmuwan yang terdiri lebih dari 70 orang sempat mempublikasikan surat terbuka. Mereka mengimbau publik untuk tak mengindahkan klaim bahwa permainan asah otak bermanfaat. Para ilmuwan ini beralasan tidak ada bukti pendukung yang kuat.

Akan tetapi, studi skala besar yang berlangsung selama satu dekade menunjukkan satu jenis aktivitas asah otak yang mungkin dapat melindungi otak, melawan demensia. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia.

Tim peneliti dari Amerika Serikat secara acak membagi lebih dari 2.800 orang dewasa sehat ke dalam empat kelompok.

Tiga kelompok menghabiskan sekitar enam minggu menggunakan program komputer yang dirancang untuk memperbaiki ingatan, penalaran, atau kecepatan pemrosesan kognitif mereka. Sementara kelompok keempat tidak ambil bagian dalam pelatihan otak apapun.

Dilansir dari Quartz, para peneliti kemudian terus memantau partisipan studi selama satu dekade.

Para periset mengevaluasi kemampuan mental peserta. Seperti sejauh mana mereka bisa mengingat kata-kata, arahan, atau membuat keputusan cepat, setelah enam minggu, lalu satu, dua, tiga, lima, dan 10 tahun kemudian.

Kelompok yang mendapatkan pelatihan ingatan, kemampuan penalaran, dan kelompok latihan kecepatan pemrosesan masing-masing menjalani 10 sesi selama enam minggu pertama, dan 80 persen dari mereka mengikuti pelatihan tambahan setelah satu dan tiga tahun.

Pada akhir tahun ke-10, para peneliti menemukan bahwa 10,8 persen (75 dari 695 orang) kelompok kontrol mengalami demensia, dibandingkan dengan 10,1 persen (23 dari 228 orang) kelompok yang menerima pelatihan keterampilan penalaran, 9,7 persen (22 dari 228 orang) yang menerima pelatihan ingatan, dan hanya 5,9 persen (13 dari 220 orang) dari mereka yang menerima pelatihan kecepatan pemrosesan.

Kesimpulannya, seperti ditulis Medical News Today, sementara permainan asah otak dan penalaran tidak mengurangi risiko demensia secara signifikan, peserta studi yang telah menjalani pelatihan “kecepatan pemrosesan” mengalami penurunan risiko demensia sebesar 29 persen.

Penulis utama penelitian ini, Jerri Edwards, PhD, mengatakan bahwa permainan “kecepatan pemrosesan” ini menargetkan kemampuan otak sangat spesifik yang diketahui mengalami penurunan seiring bertambahnya usia, seperti mengenali dan bereaksi cepat terhadap informasi baru.

Edwards yang juga seorang profesor neurosains ternama di University of South Florida menjelaskan, saat Anda bermain gim, Anda disuguhi sekilas gambar benda-benda seperti mobil atau truk. “Tugas Anda adalah dengan segera memperhatikan–dan bereaksi–terhadap apa yang ada di layar,” kata Edwards.

Seiring bertambah jagonya partisipan dalam permainan, gim ini akan menyesuaikan dengan membuat kilasan gambar lebih singkat, atau dengan menambahkan gangguan lain.

Lalu bagaimana permainan ini melindungi orang dari risiko demensia? Edwards mengakui hal ini belum jelas.

Ada beberapa bukti bahwa pelatihan otak semacam ini meningkatkan perhatian seseorang. Alhasil dapat membantu memperkuat area otak yang memburuk akibat demensia.

Edwards mengatakan bahwa bentuk pelatihan ini juga dapat memperkuat “jaringan mode default” otak, sekelompok wilayah otak saling berhubungan yang berperan dalam ingatan dan emosi. Penelitian lain juga telah mengaitkannya dengan demensia.

Menariknya, bukti yang berkembang juga menghubungkan meditasi dengan peningkatan perhatian dan aktivasi yang lebih besar pada jaringan default otak. Beberapa bukti lain menunjukkan bahwa meditasi dikaitkan dengan tingkat penurunan kognitif yang lebih rendah.

Edwards mengatakan bahwa penelitian yang telah berlangsung lebih dari satu dekade ini telah menemukan kaitan pelatihan pemrosesan kecepatan yang ia gunakan dalam studinya dengan manfaat kognitif.

Setelah beberapa studi sebelumnya menunjukkan manfaat, katanya, sebuah perusahaan membeli hak atas pelatihan pemrosesan cepat, dan sekarang bisa digunakan oleh konsumen.

Permainan asah otak itu disebut Double Decision. Adalah PositScience, perusahaan yang menjualnya.

Jika penasaran ingin mencoba, Anda dapat menjajalnya secara gratis, dan berlangganan tahunan untuk mengaksesnya di komputer dengan tarif 8 Dolar AS per bulan.

Berdasarkan penelitiannya, Edwards bilang, bermain gim ini selama satu jam, tiga hari dalam seminggu, seharusnya secara kasar memenuhi dasar yang digunakan oleh orang-orang dalam studinya.

Jadi, benarkah permainan ini akan membuat perbedaan dalam kekuatan memori?

Perlu diingat, ini baru hasil dari satu penelitian. Bukan hanya itu, ada juga keterbatasan dalam penelitian ini, termasuk fakta bahwa demensia ditentukan oleh penilaian diri atau penilaian kognitif, bukan diagnosis klinis lengkap.

“Saya pikir ini sangat menarik,” kata Eric Larson, dari Kaiser Permanente Washington Health Research Institute, Seattle pada New Scientist. Namun, dia mengatakan hasilnya masih terlalu awal untuk direplikasi.

Senada dengan Larson, Juleen Rodakowski, dari University of Pittsburgh, juga berpendapat sama. “Ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut terhadap intervensi yang cukup manjur untuk memperlambat penyakit Alzheimer atau demensia,” katanya.

Di sisi lain, beberapa peneliti tetap skeptis. “Temuan bahwa pelatihan kognitif yang hanya beberapa jam dapat mengurangi risiko demensia setelah sepuluh tahun harus disikapi dengan hati-hati,” tutur Rob Howard, dari University College London.

Howard menilai, intervensi singkat yang bisa memiliki efek sebesar ini patut dicurigai.

Kembali ke Edwards, ia mengakui dibutuhkan riset lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuannya dan tim. Sekalipun cakupan penelitiannya termasuk cukup besar dan lama.

Namun, jika Anda punya sejarah keluarga demensia, dan masih memiliki waktu dan dana ekstra, tak ada salahnya dicoba.

Bagaimana jika sebaliknya? Anda bisa mencoba untuk berolahraga. Pasalnya, riset lain menunjukkan bahwa berolahraga secara teratur dapat memangkas risiko demensia hingga 50 persen.

Dan untuk berolahraga, Anda tak selalu harus keluar biaya. Dengan mengikuti panduan instruktur lewat berbagai video di YouTube, atau sekadar lari pagi di taman terdekat juga bisa.

Source : beritagar/ berbagai sumber

 

Komentari dengan Facebook
Lanjutkan
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Yang lain di KEHIDUPAN

Trending

Dukung Kami!

Yang BARU!

To Top